Senin, 07 Mei 2012

mama putih dan mama hitam untuk tanah air


Mama Putih Dan Mama Hitam Untuk Tanah Air
Sejak ribuan tahun lalu bahkan sejak kehidupan nenek moyang kita adam dan hawa, penyakit yang muncul ditandai dengan warna kulit yang putih kemerahan mirip seperti bekas luka bakar dan agak menonjol dari kulit normal yang tidak berasa gatal disertai dengan berubahnya warna bulu atau rambut disekitar kulit merupakan gejala awal penyakit ini, namun lama kelamaan penyakit ini akan menggrogoti tubuh sipenderita sehingga ia tidak akan merasakan rasa sakit jika tubuhnya terluka. Di zaman dulu kala, penyakit ini merupakan sebuah kutukan atau hukuman Tuhan sehingga orang yang terkena penyakit ini harus diasingkan dari keluarga dan harus hidup terpisah dari komunitas manusia yang hidup sehat.
Begitu sangat beratnya kehidupan yang harus dijalani oleh orang-orang berpenyakit kusta tersebut, bahkan di zaman modren seperti saat ini diskriminasi dan kurangnya perhatian terhadap para penderita kusta masih dirasakan terutama di bagian timur indonesia.

            Setidaknya sampai pada akhir abad ke –19, wabah penyakit kusta diseluruh dunia meggoreskan kisah sedih tentang manusia-manusia yang tersingkirkan dan diasingkan di tempat pembuangan, meskipun hal demikian tidak terjadi lagi pada zaman modren seperti sekarang ini, namun para penderita kusta juga masih ada yang mendapat diskriminasi. Namun tidak demikian halnya dengan Maria Gisela Borowka wanita kelahiran Neisse, Jerman, 25 Agustus 1934, rasa kemanusiaan dan sifat welas asihnya mengalahkan rasa kejijikan terhadap penyakit kusta. Sifat welas asih Maria timbul sejak ia masih kanak-kanak. Ketika ia duduk di bangku sekolah dasar ia membaca buku yang memuat tentang kisah seorang pastor yang mengabdikan dirinya bagi para penderita kusta yang dibuang ke pulau Malokai, sang pastor bernama Damian de Veuster dikirim ke hawai pada tahun 1863. Dengan sukarela sang pastor mengabdikan dirinya untuk merawat para penderita kusta dan menghibur mereka serta menguatkan hati mereka untuk tidak tawar hati dan putus pengharapan menghadapi penyakit mereka. Diakhir cerita karena keterbatasan obat dan sarana pengobatan juga tidak memadai, pastor baik hati itu pun akhirnya tertular penyakit kusta dan meregang nyawa akibat penyakit itu. Karena ketulusan dan kebaikan hatinya maka ia pun dijuluki sebagai pahlawan kusta dari Molokai.

            Kisah pastor yang penuh welas asih dan cinta kasih terhadap sesama mananusi tersebut telah menyentuh hati kecil Maria. Hatinya tesentuh dan terharu atas pengabdian sang pastor, maka ketika salah satu teman Maria di semasa sekolah perawat di Jerman dulu, Isabella Diaz Gonzales meminta bantuannya untuk menangani para penderita kusta di Lembata NTT, Indonesia tanpa pikir dua kali Maria pun mengambil kesempatan ini. Dengan menumpang kapal barang berpenumpang delapan orang, ia bertolak dari Amsterdam setelah tujuh minggu terapung di lautan akhirnya beliau pun sampai di Lembata tepatnya tanggal 28 Agustus 1963. Setiba di kota terpencil itu beliau yang masih berusia 29 tahun pada saat itu tercengang melihat pemandangan memilukan, para penderita kusta ditempatkan jauh dari pemukiman warga, dan keaadan ynag paling memlukan adalah mereka dibiarkan tanpa pertolongan dan bantuan pengobatan bahkan makanan pun mereka kesulitan untuk mendapatkannya. Hari demi hari tubuh mereka hancur digerogoti oleh penyakit tersebut, para penderita kusta tersebut seakan hanya tinggal mengunggu waktu kapan malaikat menjemput mereka

            Di lembata Maria dikenal dengan panggilan Mama Putih, sedangkan temannya Isabella Diaz Gonzalles dijuluki dengan nama Mama Hitam yang juga memiliki peran yang besar dalam mngobati dan merawat para penderita kusta di Lembata bersama-sama dengan Maria. Isabella lahir di Larantuka 13     Januari 1927. Kemudian pada tahun 1960 Isabella membangun sebuah pondok sederhana untuk merawat para penderita kusta meskipun pondok itu masih jauh dari kata layak dijadikan sebagai sarana pelayanan kesehatan tetapi sedikit banyak telah membantu pelayanan kedua mama tersebut. Keadaan mulai membaik sejak dibangunnya rumah sakit yang didirikan oleh pemerintah Jerman pada tahun 1966, dua tahun kemudian rumah sakit itu resmi beroperasi dan diberi nama RS. Damian oleh mama putih. Kehadiran rumah sakit itu telah meringankan beban kedua mama itu dalam memberikan pelayanan kesehatan dan pengobatan pada para penderita kusta. Sehingga para penderita kusta itu dapat kembali percaya diri yang sempat hilang karena penyakit itu, bahkan para mantan penderita kusta yang sudaj sembuh membangun paguyuban mantan penderita kusta.

            Pada 20 September 1996, bertepatan dengan masa pensiunnya Maria Gisela Borowka resmi menjadi warga negara Indonesia. Dengan kewarganegaran barunya memudahkan langkahnya untuk menjalankan misi kemanusian lainnya Di usia senjanya, mama putih dan mama hitam berharap akan ada orang-orang yang meneruskan perjuangannya menangani kaum yang terabaikan. “Karena kusta bukanlah merupakan suatu hukuman ataupun kutukan dari Tuhan, kusta dapat disembuhkan, biarlah mereka hidup bersama kita. Mereka juga citra Tuhan, Tuhan sayang kita semua. Orang-orang kusta tidak hanya sakit fisik tetapi juga hati” seruan Maria untuk membangkitkan kesdaran mayarakat untuk memberantas penyakit kusta bukan penderitanya.

1 komentar: