Mama
Putih Dan Mama Hitam Untuk Tanah Air
Sejak ribuan tahun lalu bahkan sejak kehidupan nenek moyang
kita adam dan hawa, penyakit yang muncul ditandai dengan warna kulit yang putih
kemerahan mirip seperti bekas luka bakar dan agak menonjol dari kulit normal
yang tidak berasa gatal disertai dengan berubahnya warna bulu atau rambut
disekitar kulit merupakan gejala awal penyakit ini, namun lama kelamaan
penyakit ini akan menggrogoti tubuh sipenderita sehingga ia tidak akan
merasakan rasa sakit jika tubuhnya terluka. Di zaman dulu kala, penyakit ini
merupakan sebuah kutukan atau hukuman Tuhan sehingga orang yang terkena
penyakit ini harus diasingkan dari keluarga dan harus hidup terpisah dari
komunitas manusia yang hidup sehat.
Begitu
sangat beratnya kehidupan yang harus dijalani oleh orang-orang berpenyakit
kusta tersebut, bahkan di zaman modren seperti saat ini diskriminasi dan
kurangnya perhatian terhadap para penderita kusta masih dirasakan terutama di
bagian timur indonesia.
Setidaknya sampai pada akhir abad ke
–19, wabah penyakit kusta diseluruh dunia meggoreskan kisah sedih tentang
manusia-manusia yang tersingkirkan dan diasingkan di tempat pembuangan,
meskipun hal demikian tidak terjadi lagi pada zaman modren seperti sekarang
ini, namun para penderita kusta juga masih ada yang mendapat diskriminasi. Namun
tidak demikian halnya dengan Maria Gisela Borowka wanita kelahiran Neisse,
Jerman, 25 Agustus 1934, rasa kemanusiaan dan sifat welas asihnya mengalahkan
rasa kejijikan terhadap penyakit kusta. Sifat welas asih Maria timbul sejak ia
masih kanak-kanak. Ketika ia duduk di bangku sekolah dasar ia membaca buku yang
memuat tentang kisah seorang pastor yang mengabdikan dirinya bagi para
penderita kusta yang dibuang ke pulau Malokai, sang pastor bernama Damian de
Veuster dikirim ke hawai pada tahun 1863. Dengan sukarela sang pastor
mengabdikan dirinya untuk merawat para penderita kusta dan menghibur mereka
serta menguatkan hati mereka untuk tidak tawar hati dan putus pengharapan menghadapi
penyakit mereka. Diakhir cerita karena keterbatasan obat dan sarana pengobatan
juga tidak memadai, pastor baik hati itu pun akhirnya tertular penyakit kusta
dan meregang nyawa akibat penyakit itu. Karena ketulusan dan kebaikan hatinya
maka ia pun dijuluki sebagai pahlawan kusta dari Molokai.
Kisah pastor yang penuh welas asih
dan cinta kasih terhadap sesama mananusi tersebut telah menyentuh hati kecil
Maria. Hatinya tesentuh dan terharu atas pengabdian sang pastor, maka ketika
salah satu teman Maria di semasa sekolah perawat di Jerman dulu, Isabella Diaz
Gonzales meminta bantuannya untuk menangani para penderita kusta di Lembata
NTT, Indonesia tanpa pikir dua kali Maria pun mengambil kesempatan ini. Dengan menumpang
kapal barang berpenumpang delapan orang, ia bertolak dari Amsterdam setelah tujuh
minggu terapung di lautan akhirnya beliau pun sampai di Lembata tepatnya tanggal
28 Agustus 1963. Setiba di kota terpencil itu beliau yang masih berusia 29
tahun pada saat itu tercengang melihat pemandangan memilukan, para penderita
kusta ditempatkan jauh dari pemukiman warga, dan keaadan ynag paling memlukan
adalah mereka dibiarkan tanpa pertolongan dan bantuan pengobatan bahkan makanan
pun mereka kesulitan untuk mendapatkannya. Hari demi hari tubuh mereka hancur
digerogoti oleh penyakit tersebut, para penderita kusta tersebut seakan hanya
tinggal mengunggu waktu kapan malaikat menjemput mereka
Di lembata Maria dikenal dengan
panggilan Mama Putih, sedangkan temannya Isabella Diaz Gonzalles dijuluki dengan
nama Mama Hitam yang juga memiliki peran yang besar dalam mngobati dan merawat
para penderita kusta di Lembata bersama-sama dengan Maria. Isabella lahir di
Larantuka 13 Januari 1927. Kemudian pada
tahun 1960 Isabella membangun sebuah pondok sederhana untuk merawat para
penderita kusta meskipun pondok itu masih jauh dari kata layak dijadikan
sebagai sarana pelayanan kesehatan tetapi sedikit banyak telah membantu
pelayanan kedua mama tersebut. Keadaan mulai membaik sejak dibangunnya rumah
sakit yang didirikan oleh pemerintah Jerman pada tahun 1966, dua tahun kemudian
rumah sakit itu resmi beroperasi dan diberi nama RS. Damian oleh mama putih. Kehadiran
rumah sakit itu telah meringankan beban kedua mama itu dalam memberikan
pelayanan kesehatan dan pengobatan pada para penderita kusta. Sehingga para
penderita kusta itu dapat kembali percaya diri yang sempat hilang karena
penyakit itu, bahkan para mantan penderita kusta yang sudaj sembuh membangun
paguyuban mantan penderita kusta.
Pada 20 September 1996, bertepatan
dengan masa pensiunnya Maria Gisela Borowka resmi menjadi warga negara
Indonesia. Dengan kewarganegaran barunya memudahkan langkahnya untuk
menjalankan misi kemanusian lainnya Di usia senjanya, mama putih dan mama hitam
berharap akan ada orang-orang yang meneruskan perjuangannya menangani kaum yang
terabaikan. “Karena kusta bukanlah merupakan
suatu hukuman ataupun kutukan dari Tuhan, kusta dapat disembuhkan, biarlah
mereka hidup bersama kita. Mereka juga citra Tuhan, Tuhan sayang kita semua. Orang-orang
kusta tidak hanya sakit fisik tetapi juga hati” seruan Maria untuk
membangkitkan kesdaran mayarakat untuk memberantas penyakit kusta bukan
penderitanya.


Good Info
BalasHapus